Mengatasi si kecil yang lambat berjalan Bersama Bidan Juniarta Utari dan Doodle Exclusive Baby Care

News86 Views

 

Langkah pertama anak merupakan tahap perkembangan yang sangat dinanti orang tua. Tidak heran, banyak orang tua yang khawatir apabila sang anak mengalami keterlambatan berjalan. Untuk tahu penyebab dan cara mengatasi anak terlambat berjalan, simak penjelasannya di artikel berikut ini bersama Doodle Exclusive Baby Care.

Menurut Bidan Juniarta Utari, anak yang mengalami keterlambatan berjalan jika bayi atau anak yang sudah berusia 18 bulan tidak memiliki kemampuan berjalan secara mandiri. Yang dikatakan berjalan adalah anak yang melangkah walaupun hanya 1 hingga 2 langkah tetapi bisa mengontrol badannya sendiri atau dikenal dengan istilahnya ajek bisa dikatakan mampu berjalan.

“Tetapi beda kasusnya Ketika bayi atau anak yang berjalan masih butuh tuntunan, belum percaya diri artinya belum bisa berjalan tetapi untuk kemampuan berdiri, sudah mampu mengangkat badannya. Meskipun belum maksimal disini bayi membutuhkan pengasuh untuk membantu bisa berjalan bayi memberikan menstimulus untuk benar-benar bisa berjalan,” terangnya dalam Live Instagram bersama Doodle Exclusive Baby Care beberapa waktu lalu.

Bidan yang dikenal dengan sapaan Bidan Ute ini menambahkan jika saat bayi berusia 18 bulan otot kakinya belum mampu inilah hal yang perlu diwaspadai. Karena diusia inilah core master atau otot inti seharusnya sudah kuat dan sudah bisa merangkak dan kemudian akan membantu untuk berdiri yang akhirnya bisa berjalan. Jika Duduk saja susah, berdiri saja susah  diusia 18 bulan perlu sekali awarness orang-orang sekitar.

“Banyak faktor yang menjadi penyebab terlambatnya bayi berjalan, terutama pada saat kehamilan. Ketika hamil perlu kesadaran ibu, karena ibu sebagai rumah untuk anak disini bayi perlu rasa nyaman menjadi sumber nutrisi, nafas untuk anak. Saat dalam kandungan kurang mendapat nutrisi dengan optimal memperngaruhi saat lahir, Tidak Air Susu Ibu (ASI) bahkan pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) pemberiannya mempengaruhi pertumbuhan anak sesuai dengan usianya. Kondisi sakit juga menjadi salah satu faktor penyebab keterlambatan berjalan,” terang bidan Bernama lengkap Juniarta Utari ini.

Wanita yang bekerja di Cikampek ini menerangkan ada spenyakit tertentu yang menjadi penyebab keterlambatan berjalan yang dikenal dengan istilah lumpuh layu. Lumpuh layu merupakan salah satu penyakit penyebab keterlambatan berjalan.  Ketika anak mengalami lumbuh layu, penyakit ini akan membuat kakinya menjadi tidak kuat hal ini dikarenakan terinfeksi virus tertentu.

“Selain anak kita diberi nutrisi yang baik, stimulasi yang baik, imunisasi juga penting salah satunya ada wajib dasar yakni polio sehingga anak kuat bisa melewati masa demi masa tumbuh kembang sesuai usianya dengan baik. Jika anak sakit otomatis mau menjangkau kemampuan diumur-umur tertentu akan delay, mau bertumbuh dan berkembang saja anak tersebut susah. Anak sehat itu penting,” tambahnya lagi.

Ditambahkan Bidan Ute, pentingnya stimulasi diberikan untuk menangani anak yang mengalami keterlambatan berjalan. Sebagai orang tua perlu memberikan ruang memberi kesempatan untuk anak untuk latihan. Karena berjalan merupakan kemampuan yang perlu sekali didorong, potensi yang harus dibantu sama orang sekitar. Untuk itu, bayi atau anak perlu diberi ruang yang aman.

“Ketika memiliki anak usia 8 bulan yang bisa merangkak berikan ruangan tidak perlu luas sekali cukup ruangan yang tidak ada barang yang tajam, benda kecil-kecil. Jika permukaan langsung lantai berikan karpet atau matras yang empuk. Karena saat bayi merambat untuk jalan dan terjatuh tidak terlalu sakit. Saat anak yang mau belajar jalan ketika merasa sakit membuat anak tidak mau belajar lagi karena trauma. Karena berjalan bukan kemampuan yang langsung bisa tetapi perlu latihan.,” tuturnya.

Dalam wawancaranya, Bidan Ute juga menerangkan jika selain memberikan kesempatan berjalan, orangtua juga perlu memberikan kesempatan jatuh. Saat bayi yang belajar berjalan jatuh dipastikan jatuh diarea yang aman, pastikan bayi atau anak saat jatuh tidak kena tajam, tidak sampai berdarah diarea kepala banyak. Ketika anak belajar jalan dan jatuh merupakan salah satu proses untuk bayi atau anak yang memang mereka tempuh. Selain memberikan ruang berikan anak kesempatan jalan dan kesempatan jatuh. Melatih bayi atau anak untuk awareness ketika anak belajar.

“Penuhi nutrisinya supaya anak berjalan dengan baik, berikan anak sesuai dengan tekstur dengan menu gizi seimbang, jangan memberikan makanan instan membuat anak mudah sakit karena kurang nutrisi. Anak yang aktif membutuhkan nutrisi yang sepadan dan membuat anak tidak mudah sakit. Cadangannya akan habis ketika sakit, sehingga saat belajar berjalan jadi berkurang lagi,” katanya lagi.

Selain mental anak yang belajar jalan, yang perlu diperhatikan juga mental ibu atau mental pengasuhnya. Ketika melihat anak jatuh juga perlu diperhatikan. Menjadi orangtua yang tegar sangat diperlukan untuk membersamai anak untuk belajar berjalan.

“Ketika anak bisa jalan, orangtua sudah bisa memberikan senyum memberikan pujian. Kalau jatuh kurangi ekspresi yang memperlihatkan wajah sedih atau khawatir yang berlebihan. Supaya saat anak jatuh anak tetap akan merasa nyaman. Kontrol saat anak jatuh, walaupun agak sulit jangan menunjukan ekspresi yang berlebihan dan tetap tenang,” terang ute.

Dalam Live Instagram bersama Doodle Exclusive Baby Care, Bidan Ute menggungkapkan bahwa pijat bayi merupakan sebuah budaya yang sudah dilakukan nenek moyang. Masa modern ini banyak penelitian yang sudah dilakukan bahwa ternyata pijat bayi aman dan baik untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, termasuk salah satu cara menstimulus anak supaya bisa berjalan. Karena dengan memijat anak dibagian kaki,telapak kaki, area kaki dan jari-jarinya  membantu merangsang syaraf dan kemampuan otot. Syaraf membuat koneksi diseluruh tubuh supaya bisa aktif dan membangun kemampuan-kemampuan lain salah satunya kemampuan berjalan.

“Pijat bayi untuk anak sehat diperbolehkan yang fungsinya untuk menstimulus berjalan apalagi diarea kaki, yang perlu diperhatikan jangan memijat anak dalam kondisi sakit atau keadaan demam. Karena apabila kita pijat dalam kondisi demam akan memperburuk situasi demamnya. Pijat boleh dilakukan setiap hari dan tidak ada efek samping dengan catatan anak dalam kondisi sehat,” katanya.

Bagaimana pengaruh pemakaian Baby walker terhadap kemampuan berjalan? Dijelaskan bahwa sudah banyak wacana atau literatur penggunaan baby walker terhadap kemampuan berjalan yang kurang aman. Karena Baby walker tidak bisa digunakan untuk melatih berjalan karena anak tidak memakai kakinya untuk melatih berjalan justru sebaliknya. Bayi atau anak akan mendorong dengan menggunakan dada dan perut sehingga lebih duluan kedepan dan tidak membantu anak untuk berjalan.

“Sedangkan penggunaan push walker bisa saja digunakan penggunaannya seperti memegang grobak. Tetapi lebih berhati-hati karena ada yang rodanya licin. Saat anak berlajar berjalan perhatikan roda push walker karena biasanya rodanya licin. Perhatikan penggunaan push walker. Media paling enak untuk belajar adalah tubuh orangtuanya,” kata Bidan Ute.

Berbeda dengan metode titah yang sangat disarankan dilakukan saat anak belajar berjalan. Dengan catatan anak angkat tubuhnya dan jalan sendiri, yang pemting jangan inisiatif orangtua. Metode ini dilakukan dengan cara dituntun jalan oleh orangtuanya. Bantu anak untuk merasakan kebutuhan untuk berjalan, memancing anak untuk butuh berjalan.

“Saat anak menginginkan sesuatu yang diambil biasanya anak ada daya juang. Dengan memberikan maianan atau hal-hal yang suka anak akan berinisiatif mengambil apa yang dia mau.  Kurabgi membantu anak untuk mengambilkan barang yang dia berinisiatif dan ingin mengambil. Membantu untuk memberikan waktu untuk anak berjalan,” katanya lagi.

Kapan kita harus khawatir tanda yang sangat terlihat perlu dikonsultasikan? Bidan Ute menjelaskan saat bayi atau anak berumur 15 bulan, disini dapat dilihat apakah anak sudah duduk terus, merangkak terus, tidak melihat anak melepas tangan, dan anak tidak merasakan berdiri sendiri.

“Anak memegang tembok untuk berdiri perlu mencoba lepas tidak pernah, saat mencoba anak oleng. Batasnya anak bisa memiliki kemampuan berjalan diusia 18 bulan. Mulai dari 15 bulan sudah mulai dipantau apakah sudah sesuai atau belum. Yang wajib menstimulasi anak ketika mengalami keterlambatan adalah orang tua, selain itu perlu mengkonsultasikan ketenaga kesehatan baik itu bidan, dokter spesialis dan membawa anak ke fisioterapi,” ungkapnya.